Archive for Januari 31, 2008
cerpen
“ya,mau bayar berapa saja,mas” ucapnya. di tikungan terkhir menuju kampungku.”lebih enak jalan kaki,”jawabku terengah-engah. aku merasa aneh dia tak hendak menghentikan becaknya. mungkin dia sedang menguji mentalku,atau malah menyesali perbuatanny? peduli ama,apakah dia terus membututi aku atau tidak,sejauh ia masih mengayuh becak di jalan yang layak di lewatinya.
begitu memasuki gapura kampung,tangan kiriku kutarik dari saku celana.dua keping logam ratusan rupiah terloncat dan menggelinding masuk selokan. “ah , biarin”
aku menoleh ke tukang becak yang berhenti tepat di depan gapura kampung. ia turun dan berdiri di sana sambil tetap memegangi kemudi becak. sambil berjalan aku menoleh kembali, dia tetap diam bagaikan sebuah monumen. sesampai di rumah aku ceritakan pengalamanku pada ibu. lama ibuku terdiam dan menatapku dan baru kemudian berkata,”rasanya kamu perlu mencoba jadi tukang becak.”
amanat yang terkandung dalam puisi di atas adalah kita harus memahami keadaan tukang becak
majas yang terdapat adalah majas asosiasi,terdapat dalam kalimat “dia tetap diam bagaikan sebuah monumen”
watak tokoh
aku :keras kepala,cuek,terdapat pada kalimat “oeduli amat”
tukang becak:gigih,terdapat dalam kalimat “dia seperti tak hendak menghentikan becaknya”
konflik: antara tukang beca dan tokoh aku sling keras kepala pada pendiriannya
pantun nasihat
jangan menulis di atas kaca
menulislah di atas meja
jangan menangis karena harta
menangislah karena dosa
kalau ada jarum yang patah
jangan disimpan dalam peti
kalau ada kata yang salah
jangan di simpan dalam hati
pantun jenaka
aku ingin punya papan
tapi papan australia
aku ingin punya teman
tapi teman yang setia
nonton tv filmnya aci
sambil nonton makan kuaci
kalau abang sudah benci
tutup pintu lalu kunci
Puisi baru
jelang malam ku raih
mencari sosok rupawan
berteman sepi menghadang
alunan lagu perlahan mulai memecah kebisuan malam
saat cahaya sang bulan mulai meraba tubuh
tak dapat ku singkirkan kehangatan itu
saat kau datang berikan cahaya itu
menjemput impian malam yang pernah menjadi dilema….
sosok sang rupawan datang
membawa angan yang terhempas malam
kau satu yang terindah
mendekap hati yang mulai mencair
menjadikan kisah ini sebagai
akhir cerita cinta……
daun-daun gugur lagi
bumi kembali menangis,saat letusan itu muntah
melebihi guntur di siang hari,ada pekik burung-burung nazar
ada tangis murai beriuhan,dan ada kegirisan terkurung
daun-daun itu gugur,daun-daun itu gugur lagi
rebah ke pangkuan pertiwi yang belum henti membalut luka
kemudian berjuta-juta perjuangan bergelora
seakan tak akan di hentikan…
amanat:”hendaklah kita berjuang terus untuk mengatasi masalah negri ini”
majas hiperbola:
“bumi kembali menangis”
” saat letusan itu muntah”